Minggu, 20 Mei 2012




   
        

                       
Arti di balik simbol:
Anak Panah
  • melambangkan kemampuan seorang pemanah yang jitu dan penuh perhitungan
Ular
  • merupakan lambang dari kearifan
Cermin
menggambarkan kemampuan seseorang untuk melihat dirinya apa adanya         
  We Care & Love Your Family
 (Kami Peduli & Cinta Keluarga Anda)
Mari bergabung bersama kami di PRUDENTIAL hub : (Yusran ) 081241900689

Kamis, 26 April 2012

Gonta-ganti jas dengan photoshop

Siapa sih gak mau terlihat tampan dan rapi di photo ?? pasti semua pria mengiginkan hal tersebut kayak yang satu ini nih.... (saya pake photo sendiri).. he he he he he..

Apalagi tu photo buat melamar perkerjaan,sobat bloger semua pasti ingin tampil maksimal biar terlihat rapi.Kalau udah kayak gitu pasti sobat bloger akan nyewa fhotographer yang handal bukan...tapi pasti butuh biaya yang cukup gede apalagi untuk ukuran mahasiswa seperti saya ini.. hi hi hi hi :p
tapi tidak usah kuatir kita bisa akali kok dengan menggunakan photoshop kalau belum punya bisa sedot  di sini  dan buat pelengkap atau jas"nya sobat bloger bisa sedot  di sini



                   ~~~~~s e l a m a t    m e n c o b a~~~~~ 

Senin, 16 April 2012

Asal Usul Nama Sulawesi



Sulawesi, adalah nama sebuah pulau yang berada di tengah-tengah Indonesia. Bentuknya cukup unik, seperti huruf K dan dilalui oleh garis meridian 120 derajat Bujur Timur, dan juga terhampar dari belahan bumi utara sampai selatan. Menurut wikipedia, nama Sulawesi kemungkinan berasal dari kata ‘Sula’ yang berarti pulau dan ‘besi’ yang menurutnya banyak ditemukan di sekitar Danau Matana. Pada dokumen dan peta lama, pulau ini dituliskan dengan nama ‘Celebes’. Hikayat asal usul nama ‘Celebes’ dalam Bahasa Bugis…

Wettu rioloE, wettu pammulanna engka to macellaE gemme’na, no pole lopinna ri birittasi’E, lokka i makkutana ko to kampongE. To kampong E wettunna ro, na mapparakai lopinna, masolang ngi engsele’na. Na wettunna makkutana i to macella’E gemme’na, to kampong E de’ na pahang ngi, aga hatu na pau. Kira-kira pakkutanana yaro to macella’E gemme’na, mappakkoi: “Desculpar-me, qual é o nome deste local?” Yero to kampongE, naaseng ngi kapang, “agatu ta katenning?”. Mabbeli adani to kampongE, “Sele’bessi”. Pole mappakoni ro, na saba’ asenna ‘Celebes’.

Terjemahan bebas: Pada waktu lampau, pada saat pertama kali rombongan orang yang berambut merah turun dari perahu dan menghampiri penduduk setempat yang sedang bekerja membuat perahu. Pimpinan rombongan tersebut bertanya mungkin dalam bahasa Portugis yang tidak dimengerti, mungkin bertanya ‘Apa nama tempat ini?’ Penduduk yang ditanyai, karena tidak paham, hanya mengira-ngira mungkin dia ditanya benda apa yang sedang dia pegang? Dengan spontan penduduk tersebut menjawab ‘Sele’bessi’ yang artinya engsel besi. Sejak saat itu, pimpinan orang yang berambut merah mencatat lokasi yang mereka datangi bernama daerah ‘Celebes’.

Salah satu ekspedisi ilmiah dunia terkait dengan Sulawesi dilakukan oleh Alfred Russel Wallace yang mengemukakan suatu garis pembatas tentang flora dan fauna yang ada di Indonesia. Juga ekspedisi Snellius (Universitas Leiden) yang mempelajari tentang kondisi bawah permukaan sekitar Sulawesi sampai ke Maluku. Kedua ekspedisi ilmiah pada zaman tersebut menggunakan nama ‘Celebes’.

Yang menarik adalah masyarakat lokal pada waktu itu belum menyadari untuk memberikan nama ke pulau tempat mereka berdiam. Sehingga untuk hal ini, Celebes merupakan eksonim untuk pulau yang nyaris berbentuk huruf K ini. Dari Celebes ini kemudian berevolusi menjadi ‘Sulawesi’ yang menjadi endonim sampai saat ini.

Pada lambang daerah Sulawesi Selatan ada tulisan lontara berbahasa Makassar.

Tertulis: "Kualleangi Tallanga Natowalia" dibawah gambar perahu khas Phinisi
Lalu diterjemahkan bebas menjadi : "Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai"

Namun arti sebenarnya kata "Kualleangi Tallanga Natowalia" adalah "Lebih Kupilih Tenggelam (di lautan) daripada Harus Kembali Lagi (ke pantai)".

Sulawesi sendiri dulu disebut Celebes oleh Belanda. konon berasal dari kata Sele' Bessi (badik besi - bahasa bugis).

Konon dahulu waktu orang Portugis datang, dia bertemu dengan seorang pribumi yang sedang attompang sele' alias badik (merawat badik dengan menggunakan jerus nipis)*.

Ketika itu orang Belanda bertanya: "Apa nama daerah ini?"
Tapi karena bahasanya kurang nyambung, pribumi yg ditanya mengira dia ditanya "apa nama benda yg kamu pegang itu?"
Maka dengan enteng Sang Pribumi menjawab: "Sele' Bessi"

Nah dari kata Sele' Bessi inilah terbentuk kata Celebes alias Sulawesi.

Dulu ada Pelaut Portugis yang Singgah di Makassar dan Menemui Raja Gowa untuk meminta Izin berlayar sekaligus menanyakan nama Daerah ini, tetapi pada saat orang Portugis itu Menghadap ke Hadapan Raja, Raja sedang Membersihkan Sele'nya (Kerisnya), Nah pada saat itu Orang Portugis Bertanya kepada Sang Raja dengan bahasa Portugis bahwa daerah ini namanya Apa???, karena Sang Raja tidak mengerti Bahasa Portugis, maka sang Raja hanya Memperkirakan arti pertanyaan itu, Sang Raja memperkirakan bahwa orang Portugis ini sedang mempertanyakan apa nama Benda yang ada di Tangan Sang Raja, maka Sang Raja pun menjawabnya dengan SELE' BASSI. singkat cerita Orang Portugis ini pun mencatat nama SELE' BASSI itu untuk menamai daerah kita, dan mereka lebih mudah menyebut SELE' BASSI dengan sebutan CELEBES.

Nb : catatan di atas saya belum tau persisi dari mana asal usulnya,apa bila ada yg kurang berkenan mohon di koreksi.

Sabtu, 31 Maret 2012

Senjata Khas Sulawesi Selatan ..












ADIK adalah pisau dengan bentuk khas yang di miliki oleh masyarakat Bugis,Makassar dan Luwuk. Badik bersisi tajam tunggal . Bentuknya asimetris dan bilahnya kerap kali dihiasi dengan pamor.

Badik merupakan senjata khas tradisonal masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar yang berada dikepulauan Sulawesi. Ukurannya rata rata sekitar 12-15 cm ,dan biasanya apabila Badik ini sudah keluar dari sarungnya pantang untuk di masukkan apa bila badik belum meminum darah.

Badik memiliki bentuk dan sebutan yang berbeda-beda tergantung dari daerah mana ia berasal. Di Makassar badik dikenal dengan nama badik sari yang memiliki kale (bilah) yang pipih, batang (perut) buncit dan tajam serta cappa dan banong (sarung badik). Sementara itu badik Bugis disebut kawali, seperti kawali raja (Bone) dan kawali rangkong (Luwu). Kawali Bone terdiri dari bessi (bilah) yang pipih, bagian ujung agak melebar serta runcing. Sedangkan kawali Luwu terdiri dari bessi yang pipih dan berbentuk lurus. Kawali memiliki bagian bagian: Pangulu (ulu), bessi (bilah) dan wanua (sarung).

Umumnya badik digunakan untuk membela diri dalam mempertahankan harga diri seseorang atau keluarga. Hal ini didasarkan pada budaya siri' dengan makna untuk mempertahankan martabat suatu keluarga. Konsep siri' ini sudah menyatu dalam tingkah laku, sistem sosial budaya dan cara berpikir masyarakat Bugis, Makassar dan Mandar di Sulawesi Selatan. Selain dari pada itu ada pula badik yang berfungsi sebagai benda pusaka, seperti badik saroso yang memiliki nilai sejarah. Ada pula sebagian orang yang meyakini bahwa badik berguna sebagai azimat yang berpengaruh pada nilai baik dan buruk seseorang.

Selain itu masyarakat sulawesi khususnya sulawesi selatan terkenel dengan masyarakat perantau, Jadi apa bila mereka dalam perantauan tidak jarang mereka membawa badik sebagai bentuk pertahanan diri dan badik membuat mereka merasa aman ,Biasanya bading ini di sematkan di pinngang.

Di bawa ini ada beberapa macam badik menurut daerah masing masing

Badik Bugis

Badik Raja (gecong raja, bontoala)
Badik yang asalnya dari daerah kajuara kabupaten Bone , dalam pembuatan badik ini,, orang2 disekitar kajuara sana masih percaya jika badik raja dibuat oleh makhluk halus, ketika malam, terdengar suara palu bertalu-talu dalam lanraseng gaib sampai paginya masyarakat sana menemukan jadilah sebuah badik raja,, badik ini bilahnya aga” besar ukurannya 20-25 cm, menurut bang ray divo, Ciri-ciri badik raja hampir mirip dengan badik lampobattang, bentuk bilahnya agak membungkuk, dari hulu agak kecil kemudian melebar kemudian meruncing. Pada umumnya mempunyai pamor timpalaja atau mallasoancale di dekat hulunya. Bahan besi dan bajanya berkualitas tinggi serta mengandung meteorit yang menonjol dipermukaan, kalau kecil disebut uleng-puleng kalau besar disebut batu-lappa dan kalau menyebar di seluruh permukaan seperti pasir disebut bunga pejje atau busa-uwae. Badik raja di masa lalu hanya digunakan oleh arung atau dikalangan bangsawan-bangsawan dikerajaan Bone.


Badik Makassar
Badik Lompo Battang (badik siperut besar/jantung pisang)
Badik ini di sebut sebagai "lompo battang" atau sari,, badik ini berasal dari Makassar, bentuknya seperti jantung pisang, ada jg yang bilang seperti orang hamil, makanya orang menyebutnya lompo battang (perut besar), konon katanya jika ada orang terkena badik ini, maka dia tidak akan bertahan dalam waktu 24 jam,




Badik Luwuk
Badik luwu,, badik luwu yang berasal dari kabupaten luwu, bentuknya agak sedikit membungkuk, mabbukku tedong (bungkuk kerbau), bilahnya lurus dan meruncing kedepan,, badik bugis kadang diberikan pamor yang sangat indah, hingga kadang menjadi buruan para kolektor ..di bajanya terdapat rakkapeng atau sepuhan pada baja yang konon disepuh dengan bibir dan “maaf” alat kelamin gadis perawan sehingga konon tidak ada orang yang kebal dengan badik luwu ini,

Ibu Pertiwiku Menangis




Ibu pertiwi telah lama, ya sudah lama telah meneteskan air mata

Meneteskan air mata untuk penderitaan anak negeri

Meneteskan air mata untuk kemiskinan anak negeri yang semakin menjadi

Meneteskan air mata untuk anak negeri yang tak bersekolah di pelosok-pelosok negeri

Meneteskan air mata untuk hasil bumi yang di eksploitasi

Meneteskan air mata untuk penguasa yang menganiaya anak negeri

Sampai kapan ibu pertiwi harus menangisi semua ini.......

Jumat, 30 Maret 2012

Membuat Danbo Sendiri

Ok sobat bloger sebelum kita mulai membuat danbo sendiri, saya akan menceritakan sedikit tentang danbo, Danbo adalah kependekan dari Danboard, Danbo sebenarnya diambil dari bahasa jepang “danboru”, yang berarti kardus. Danboard atau sering disebut Danbo adalah sebuah tokoh fiksi dari sebuah manga yang berjudul Yotsuba&!(dibacanya yotsubato!) yang dikarang oleh Azuma Kiyohiko. Yotsuba&! adalah serial manga komedi yang dikarang oleh Kiyohiko Azuma.
Komik ini menceritakan bocah kecil yang bernama Yotsuba yang belajar tentang lingkungan di sekelilingnya yang dibimbing oleh ayah, tetangga dan teman-temannya. Yotsuba%! mempunyai arti “Yotsuba dan” yang seperti pada judul tiap chapternya, yang kebanyakan berjudul “Yotsuba dan sesuatu”. Di salah satu chapter, diceritakan kalo si Yotsuba ini pergi ke kamar kakaknya yang sedang ngerjain proyek waktu senggangnya. Nah, selanjutnya Yotsuba ini ketemu ama temen kakaknya yang sedang pake baju robot dari kardus.Danbo sendiri di jepang dijual dengan harga mulai dari 5000 yen atau sekitar Rp. 500.000 rupiah per bijinya. Dalam serial manganya danbo mungil ini dapat bergerak ketika ada koin yang dimasukan kedalam mulutnya.

Ok langsung saja...
Pertama sobat bloger tentunya harus punya pola danbo kalu belum punya klik disini kemudian print pola tersebut menggunakan kertas yg tebal atau bisa juga mengunakan kertas jilid tp disini saya mengunakan kertas fhoto,jika sobat bloger udah punya kita lanjut menjelaskan caranya pisahkan/gunting semua bagian" danbonya kemudian rakit sehingga berbrntuk bagian" dando seperti di bawah ini



oww iyah mungkin di sini letak kesulitannya ada pada engsel danbonya maaf lupa mengabadikannya tp pasti sobat bloger bisa merakit engselnya sendiri engselnya terdiri dari bagian di bawah ini


untuk engsel lengan terdiri dari no.3,6,7 dan 9 (6 dan 7jadikan satu menyerupai tabung)
untuk engsel kaki terdiri dari no. 17 dan 5 di jadikan satu menyerupai tabung
untuk engsel leher terdiri dari no. 12,13,14,dan 15



setelah udah terbentuk bagian" danbonya kita tinggal menyatukan menjadi seperti ini

Dan yang terakhir jrenggggggnkkkkk....
jadilah DANBO buatan anda sendiri..



~~~~~~~~ S E L A M A T_____M E N C O B A~~~~~~~~~

Minggu, 25 Desember 2011

Pujananting Dalam Epos I La Galigo Ternyata “Bukan” Di Barru

Dalam keseharian masyarakat Barru, kita mengenal Pujananting sebagai sebuah Kecamatan Di Kabupaten Barru. Sekalipun tergolong kecamatan baru namun sejarah panjang menunjukkan eksistensi Pujananting sejak dulu hingga kini. Berbagai lika-liku sosial budaa sudah di tempuh oleh masyarakat setempat dalam mengarungi armada kehidupan.

Dalam Epos I la Galigo pula sangat jelas menggambarkan keberadaan Pujanting sebagai suatu kawasan di daerah kabupaten Barru disertai data-data lengap, baik sastra lisan maupun sastra tulisan dan juga masih sangat jelas terlihat situs-situs era Sawrigading yg dimaksud dalam Epos I La galigo.

Sehingga sangatlah lucu ketika Pujananting Barru yang tertera dalam Epos I Lagaligo tersebut adalah Pudjananti (sekarang: Ganti) Donggala Sulawesi Tengah. Pudjananti, Donggala merupakan salah satu dari tiga kerajaan tua di Sulteng se-zaman Majapahit dan Singasari, yakni Kerajaan Banggai (Benggawi) dan Sigi.

Dalam legenda sejarah mereka, Masyarakat Donggala meyakini bahwa daerah Ganti (Pujananti) adalah salah satu daerah jelajah Sawerigading hanya dengan pertimbangan bahwa orang Kaili dalam melafalkan suatu nama berakhiran “ng”, selalu tidak disebutkan, sehingga Pudjananting itulah disebut Pudjananti. Begitu pula sebutan Sawerigading dalam bahasa Bugis orang Kaili mengeja menjadi Sawerigadi dengan menghilangkan “ng”.

Nah, Sungguh sangat lucu ketika hanya dengan argumenasi seperti itu masyrakat Donggala dan Ganti tiba-tiba menggeneralisasi bahwa Pujanting yang dimaksud dalam Sureq Galigo adalah Pujananti di daerah mereka tanpa melihat runut otentiknya. Sementara ada ratusan lontarak atau naskah tua Sul-sel yang sangat valid bila bercerita Pujanating. Naskah Lontarak balusu atau perihal ajjatapreng saja sudah dapat mematahkan argumentasi diatas.

Di adobsi dari: http://barrunews.wordpress.com